Nunukan, KTV — Pemerintah Kabupaten Nunukan terus berupaya memperkuat perlindungan dan pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui pembekalan literasi keuangan.
Tidak hanya memastikan PMI bekerja secara aman dan sesuai prosedur, Pemkab Nunukan juga mendorong agar para pekerja migran mampu mengelola penghasilan sebagai bekal membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke daerah asal.
Kegiatan literasi keuangan dan pelatihan Training of Trainers (ToT) menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada PMI mengenai pentingnya perencanaan keuangan selama bekerja di luar negeri.
Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Nunukan, Suhadi, S.Hut., M.Sc., mengatakan bahwa keberhasilan PMI tidak hanya diukur dari kemampuan memperoleh penghasilan saat bekerja di luar negeri, tetapi juga dari kesiapan mereka dalam mengelola hasil kerja untuk masa depan.
“Harapan kami, pembinaan terhadap pekerja migran dimulai sejak mereka berangkat secara legal, selama bekerja, hingga kembali ke tanah air setelah menyelesaikan masa kontrak,” ujar Suhadi, Selasa (23/06/2026).
Ia menjelaskan, banyak PMI yang mampu mendapatkan penghasilan cukup baik selama bekerja di luar negeri, namun, tanpa pengelolaan keuangan yang tepat, hasil tersebut dapat habis setelah kembali ke kampung halaman.
“Ketika kontrak kerja selesai, jangan sampai mereka kembali tanpa memiliki persiapan ekonomi, karena itu, literasi keuangan penting agar mereka mampu mengatur pengeluaran, menabung secara terencana, dan mempersiapkan modal usaha,” jelasnya.
Menurut Suhadi, Pemkab Nunukan berharap PMI dapat memiliki kemandirian ekonomi setelah kembali ke Indonesia, dengan bekal pengelolaan keuangan yang baik, PMI diharapkan mampu menciptakan peluang usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, bahkan membuka lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar.
“Tujuan akhirnya adalah agar PMI memiliki pilihan ketika kembali ke daerah asal, bukan kembali bekerja ke luar negeri hanya karena tidak memiliki sumber penghasilan lain,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu PMI peserta kegiatan, Suhaeni, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi dirinya dan peserta lainnya, PMI yang berasal dari Lombok dan telah bekerja sekitar satu tahun di Malaysia sebagai pekerja rumah makan ini mengaku mendapatkan banyak informasi baru.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan tentang bagaimana bekerja secara aman dan sesuai prosedur, termasuk bagaimana mengelola keuangan,” ujar Suhaeni.
Ia mengatakan, selama bekerja dirinya berusaha menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung sebagai persiapan setelah masa kontrak berakhir.
“Alhamdulillah, saya sudah mulai menabung sedikit demi sedikit, rencananya tabungan itu akan digunakan sebagai modal untuk membuka usaha kecil di kampung halaman,” ungkapnya.
Melalui program pembekalan bagi PMI, Pemkab Nunukan berharap para pekerja migran tidak hanya menjadi pencari nafkah bagi keluarga, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi ketika kembali ke tanah air.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan, peningkatan kapasitas, serta penguatan kesejahteraan PMI secara berkelanjutan. (**)








