telepon

0552-2033740

handphone

08115396997

email

tvkaltara@gmail.com

El Nino Picu Kemarau 2026 Lebih Kering, Indonesia Waspada Karhutla

Jakarta, KTV – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 akan membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Prediksi ini kembali menguji kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Pengaruh variabilitas iklim global dinilai menjadi faktor utama yang memperparah kondisi kekeringan musim kemarau tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau dan jumlahnya diprediksi terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Ancaman karhutla akibat El Nino bukan kali pertama dirasakan Indonesia. Bencana serupa pernah terjadi pada 2015 dan menyebabkan kerusakan hutan yang sangat luas, serta kabut asap yang berdampak panjang bagi kehidupan masyarakat.

Merespons prediksi tersebut, sejumlah pakar kehutanan turut angkat bicara mengenai kesiapan pengelolaan hutan dan lahan dalam menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem. Mereka menekankan ancaman karhutla bukan semata persoalan cuaca, melainkan juga erat kaitannya dengan praktik pengelolaan lahan di tingkat masyarakat.

El Nino dan Risiko Kebakaran Hutan

Fenomena El Nino memiliki hubungan kuat dengan meningkatnya risiko kebakaran karena menyebabkan kondisi hutan menjadi lebih kering. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya pemicu karena praktik penggunaan api dalam pembukaan lahan tanpa pengendalian yang memadai masih menjadi faktor dominan di lapangan.

“Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan,” ujar Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 14 Mei 2026.

Fiqri menyebut kapasitas masyarakat dalam menggunakan api secara aman masih menjadi tantangan besar di lapangan. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar atau slash and burn masih umum digunakan karena dianggap sebagai metode cepat, namun seringkali tidak disertai langkah pengamanan seperti pembuatan sekat bakar.

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 akan membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Prediksi ini kembali menguji kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Pengaruh variabilitas iklim global dinilai menjadi faktor utama yang memperparah kondisi kekeringan musim kemarau tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau dan jumlahnya diprediksi terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Ancaman karhutla akibat El Nino bukan kali pertama dirasakan Indonesia. Bencana serupa pernah terjadi pada 2015 dan menyebabkan kerusakan hutan yang sangat luas, serta kabut asap yang berdampak panjang bagi kehidupan masyarakat.

Merespons prediksi tersebut, sejumlah pakar kehutanan turut angkat bicara mengenai kesiapan pengelolaan hutan dan lahan dalam menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem. Mereka menekankan ancaman karhutla bukan semata persoalan cuaca, melainkan juga erat kaitannya dengan praktik pengelolaan lahan di tingkat masyarakat.

El Nino dan Risiko Kebakaran Hutan

Fenomena El Nino memiliki hubungan kuat dengan meningkatnya risiko kebakaran karena menyebabkan kondisi hutan menjadi lebih kering. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya pemicu karena praktik penggunaan api dalam pembukaan lahan tanpa pengendalian yang memadai masih menjadi faktor dominan di lapangan.

“Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan,” ujar Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 14 Mei 2026.

Fiqri menyebut kapasitas masyarakat dalam menggunakan api secara aman masih menjadi tantangan besar di lapangan. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar atau slash and burn masih umum digunakan karena dianggap sebagai metode cepat, namun seringkali tidak disertai langkah pengamanan seperti pembuatan sekat bakar.

(REN)

Related Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top