telepon

0552-2033740

handphone

08115396997

email

tvkaltara@gmail.com

Tragedi Siswa SD Gantung Diri Tak Mampu Beli Buku-Pena, JPPI: Bukti Salah Alokasi Anggaran Pendidikan

Jakarta, KTV – Kematian tragis siswa Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pena bukan sekadar berita duka. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) memaknai ini sebagai sinyal lumpuhnya perlindungan hak anak atas pendidikan.

“Di tengah klaim pemerintah tentang anggaran pendidikan yang terus naik, realitas lapangan justru menunjukkan nyawa anak bisa melayang hanya karena harga buku dan pena tak terjangkau,” kata Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.

Ia membantah pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang bilang anak putus sekolah karena tak bisa jajan. Pernyataan itu menjatuhkan realitas masyarakat miskin tak bisa sekolah karena masalah ekonomi.

“Kasus di NTT ini secara langsung membantah dan membungkam narasi tersebut. Anak-anak kita putus sekolah bukan karena tak bisa jajan cilok di kantin. Mereka menyerah karena biaya pendidikan mencekik,” tegas Ubaid.

Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10, ditemukan meninggal gantung diri di pohon pada Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026. Saat evakuasi, polisi menemukan surat tulisan tangan korban.

Surat itu ditulis dalam bahasa daerah Ngada ditujukan kepada ibu korban, mengungkap dugaan alasan korban mengakhiri hidup.

Sebelum meninggal, YBR minta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya, tapi ibu tak bisa karena tak punya uang.

Berikut isi surat YBR dengan bahasa daerah Ngada beserta artinya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja’o (Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)

Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu. YBR dikenal baik, riang, dan rajin belajar meski ekonomi keluarga tak mendukung.

YBR bunuh diri selang sehari setelah minta uang beli buku dan pena kepada ibunya, tapi ibu tak punya uang, ayahnya sudah meninggal.

Sebelum kejadian, ibunya nasihati YBR tetap rajin sekolah meski ekonomi terbatas, apalagi uang sulit didapat.

YBR ditemukan tak bernyawa keesokan hari oleh warga yang urus ternak kerbau, tak jauh dari rumah neneknya, 80, tempat tinggal YBR. (REN)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *