Nunukan, KTV – Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan mendorong pelaksanaan simulasi kebencanaan secara rutin di lingkungan sekolah sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan siswa, guru, dan seluruh warga satuan pendidikan dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Andi Maskur, mengatakan simulasi kebencanaan idealnya dilaksanakan satu hingga dua kali dalam setahun. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi siswa, tetapi juga membangun pemahaman dan kesiapan seluruh warga sekolah dalam menghadapi bencana.
Hal itu disampaikannya usai menghadiri simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP Negeri 1 Nunukan, Rabu (21/10/2026).
“Pertama, kami dari Dinas Pendidikan mengucapkan terima kasih kepada BPBD, petugas pemadam kebakaran, serta seluruh pihak yang terlibat. Harapan kami, ke depannya simulasi kebencanaan ini minimal dilaksanakan satu kali dalam setahun. Kalau memungkinkan, bisa dua kali setahun,” ujar Andi Maskur.
Menurutnya, simulasi kebencanaan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran di satuan pendidikan. Melalui kegiatan tersebut, siswa dan guru diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi bencana.
Ia menilai SMP Negeri 1 Nunukan dapat menjadi contoh bagi sekolah menengah pertama (SMP) lainnya dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“SMP Negeri 1 ini merupakan sekolah unggulan sekaligus sekolah percontohan. Kami berharap sekolah-sekolah SMP lainnya juga bisa meniru apa yang dilakukan di sini, terutama dalam penanganan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana,” katanya.
Andi Maskur menjelaskan, pemahaman kebencanaan di lingkungan sekolah perlu mencakup tiga tahapan, yakni sebelum bencana, saat bencana terjadi, dan setelah bencana. Dengan memahami ketiga tahapan tersebut, warga sekolah diharapkan mampu mengambil langkah yang tepat untuk mengurangi risiko serta melindungi keselamatan bersama.
Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, Dinas Pendidikan juga memberikan perhatian terhadap aspek keamanan bangunan sekolah, khususnya dalam menghadapi potensi gempa bumi.
Menurutnya, kondisi dan struktur bangunan perlu menjadi perhatian agar dapat meminimalkan risiko terhadap keselamatan warga sekolah apabila terjadi bencana.
“Bukan hanya pengetahuan tentang kebencanaan yang perlu diperhatikan, tetapi juga kondisi bangunannya. Struktur bangunan sekolah harus diawasi dan diperhatikan dengan baik agar aspek keselamatannya lebih terjamin apabila terjadi gempa,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengalaman kerusakan pada sejumlah bangunan sekolah menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan keamanan fasilitas pendidikan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah penggunaan material bangunan yang lebih ringan pada bagian tertentu, sesuai kebutuhan teknis dan standar keselamatan konstruksi.
Melalui pelaksanaan simulasi SPAB secara berkelanjutan, Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan berharap budaya sadar bencana dapat tumbuh di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga lingkungan yang semakin siap dalam menghadapi berbagai potensi bencana. (**)








