telepon

0552-2033740

handphone

08115396997

email

tvkaltara@gmail.com

Save The Children Ungkap Anak Indonesia Hadapi Krisis Ganda Digital Dan Iklim

Jakarta, KTV – Anak-anak Indonesia sekarang banyak menghabiskan waktu di dunia digital, tetapi hal itu juga membawa tekanan berat pada kesehatan mental dan kebutuhan perlindungan mereka. Di sisi lain, dampak nyata perubahan iklim turut mengancam pemenuhan hak dasar anak, termasuk akses terhadap pangan, pendidikan, dan rasa aman. Temuan ini dipaparkan dalam diskusi media awal tahun 2026 oleh Save the Children Indonesia pada Rabu, 14 Januari 2026.

Menurut studi Save the Children Indonesia 2025 mengenai Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak, hampir 40% anak usia SMP menghabiskan antara tiga sampai enam jam setiap hari menggunakan gawai, dengan waktu terbesar antara pukul 18.00 hingga 21.00. Anak perempuan ternyata menghabiskan waktu layar lebih lama dibandingkan anak laki-laki. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan anak, bahkan ketika sekolah melarang penggunaan ponsel saat pelajaran.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa meskipun literasi digital meningkat, hal ini tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan mental. Kecanduan digital yang lebih tinggi justru berkaitan dengan penurunan kesehatan mental anak.

Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa anak-anak pada umumnya sudah memahami berbagai risiko di dunia digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian data, dan perundungan siber, tetapi kesadaran itu belum diikuti kemampuan untuk merespons secara aman dan sehat.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menekankan bahwa meskipun anak menyadari berbagai ancaman di ruang digital, mereka seringkali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menurutnya, literasi digital saja tidak cukup — anak membutuhkan kompetensi digital yang komprehensif, dukungan orang tua, dan layanan kesehatan mental yang memadai untuk menghadapi tantangan tersebut.

Selain tekanan akibat ruang digital, anak-anak Indonesia juga menghadapi ancaman serius dari krisis iklim, yang semakin jelas dampaknya terhadap pemenuhan hak-hak mereka. Laporan Voluntary National Review SDGs Tahun 2025 mencatat bahwa perubahan iklim telah mengikis hak dasar anak, termasuk hak atas pola makan yang layak, kesehatan yang baik, serta pendapatan keluarga yang stabil, sekaligus memperbesar risiko perlindungan anak, terutama saat terjadi bencana.

Kajian bersama yang dilakukan Save the Children Indonesia dengan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 menemukan bahwa di beberapa lokasi pengungsian akses air bersih masih belum merata, yang berpotensi menyebabkan masalah kesehatan bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak. Selain itu, banyak fasilitas kesehatan yang rusak atau tidak berfungsi dengan optimal, sementara kebutuhan untuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui belum terpenuhi secara memadai.

Menghadapi situasi ini, Save the Children Indonesia menekankan pentingnya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi. Seiring memasuki tahun 2026, organisasi ini mengidentifikasi beberapa prioritas mendesak, termasuk menguatkan keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan dan sistem perlindungan yang melibatkan anak, guru, serta orang tua; meningkatkan literasi dan kemampuan adaptasi terhadap krisis iklim serta aksi iklim yang bermakna bagi anak; serta memastikan pemenuhan hak anak dalam fase transisi pemulihan pascabencana di wilayah yang paling terdampak seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

CEO Save the Children Indonesia juga menegaskan bahwa, demi mencapai visi Indonesia Emas 2045, diperlukan investasi besar untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat, dan tangguh menghadapi berbagai krisis dan perubahan zaman karena tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak sekarang, cita-cita tersebut akan sulit tercapai.

(RUL)

Related Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top