Jakarta, KTV – Saat pandemi covid-19 dan banyak kegiatan di rumah dilakukan, pastinya kita tidak jauh dari kebutuhan gadget. Dan hal ini pun juga dilakukan oleh anak karena mereka juga mendapatkan pembelajaran dengan cara online
Dokter Spesialis Mata dan Ketua Contact Lens Service JEC Eye Hospitals and Clinics, Tri Rahayu menyebut, berdasarkan studi, dr. Tri menjelaskan pascapandemi di Jakarta, ada 40 persen anak SD alami gangguan refraksi. Gangguan ini menyerang anak yang sebagian besar belum pernah memakai kacamata.
Menurutnya, mata minus atau miopia yang tak tertangani bisa berkembang menjadi high myopia. Komplikasinya mencakup glaukoma, katarak, hingga kebutaan dini.
Kalau sudah begini anak pasti membutuhkan alat bantu yaitu kacamata. Namun, nyatanya tak hanya dikoreksi dengan kacamata, mata minus pada anak nyatanya bisa dicegah sejak dini. Orthokeratology (Ortho-K) dapat menjadi alternatif untuk menahan laju pertambahan minus pada anak dan remaja.
Orthokeratology, atau yang sering disingkat Ortho-K, adalah prosedur non-bedah untuk memperbaiki penglihatan dengan cara membentuk kembali kornea mata menggunakan lensa kontak khusus yang dipakai saat tidur.
Lensa ini didesain untuk memberikan tekanan pada kornea, sehingga secara bertahap mengubah bentuknya dan memperbaiki masalah refraksi seperti miopia (mata minus) dan astigmatisme.
“Ortho-K membantu memperbaiki bentuk kornea sekaligus memperlambat progresi miopia,” kata dr. Tri Rahayu.
Sementara dengan Ortho-K, dapat mengoreksi hingga minus -8.00 dioptri. Dr. Tri mencontohkan kasus adanya pasien usia 9 tahun dengan minus -3.50 menunjukkan kenaikan minus hanya -0.25 setelah setahun terapi.
“Keberhasilan ditentukan oleh kepatuhan dan peran aktif orang tua,” ujarnya.
Dr. Tri mengatakan kontrol rutin dan kebersihan lensa juga wajib dijaga. JEC pun mendorong skrining sejak dini, terutama pada anak usia sekolah. Semakin cepat ditangani, risiko komplikasi dapat ditekan.
(TIN)








