Krayan Tengah, KTV – Sebuah benih kecil yang dibawa ribuan tahun lalu menyeberangi benua, dari dataran Asia Timur hingga ke pedalaman Kalimantan, Jewawut atau yang dikenal oleh masyarakat Dayak Lundayeh sebagai binamud tanaman sederhana namun sarat makna yang kini menjadi identitas dataran tinggi Krayan.
“Kehadiran jewawut di Krayan adalah warisan leluhur, ini bukan sekadar tanaman pangan, tetapi bagian dari cerita hidup kami,” ujar Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan, Krayan Tengah Kolen Dawat, S. Pd.,Rabu (18/02/2026).
Secara ilmiah, binamud telah dibudidayakan manusia sejak 6.000–8.000 tahun lalu, dari dataran Asia Timur, benih ini menempuh perjalanan panjang, dibawa oleh migrasi manusia dan perdagangan antarwilayah.
Di Nusantara, tanaman ini dikenal sekitar 2.000–4.000 tahun lalu, namun di Krayan, tanaman ini muncul pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika misionaris datang ke pedalaman Kalimantan.
Interaksi antara masyarakat Dayak Lundayeh dan para misionaris, termasuk sistem barter dan pertukaran pengetahuan, membuat benih dan cara bertanam jewawut menyebar dan mengakar di Krayan.
Dari titik itu, tanaman ini mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Wilayah Ve’ Krayan (sungai Krayan), yang dahulu satu kesatuan adat, kini terbagi menjadi Kecamatan Krayan Selatan dan Krayan Tengah, di tengah perubahan administratif, nilai budaya tetap menjaga keberlangsungan jewawut, di Krayan Tengah, ladang-ladang tinggi menjadi rumah bagi tanaman ini, diwariskan turun-temurun.
Keunggulan jewawut membuatnya adaptif dengan alam pegunungan, yang tidak butuh sawah berair, tahan suhu dingin, dan masa panennya singkat, dalam masa gagal panen padi, jewawut menjadi penyelamat pangan.
Ia bukan sekadar makanan, tetapi simbol ketahanan dan kemandirian masyarakat.
Selain nilai budaya, jewawut memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, di Krayan, harganya mencapai Rp80.000–Rp100.000 per kilogram, sementara di Malaysia, mencapai 40–45 ringgit, setara sekitar Rp172.000, satu hektare lahan subur dapat menghasilkan 750 kilogram panen.
Dengan pengelolaan baik, jewawut bisa menjadi komoditas unggulan yang menembus pasar lintas negara.
Penguatan pangan lokal di Krayan Tengah menjadi strategi menghadapi tantangan globalisasi.
Dukungan pemerintah, kelompok tani, dan partisipasi generasi muda membuka peluang menjadikan jewawut bukan sekadar pangan rumah tangga, tetapi aset ekonomi sekaligus simbol identitas budaya.
Jewawut lebih dari sekadar tanaman pangan, ia adalah bukti bahwa warisan leluhur mampu menjawab tantangan modern, simbol ketahanan, kesederhanaan, dan kemandirian masyarakat Dayak Lundayeh.
Dari ladang-ladang tinggi Krayan Tengah, benih kuno ini terus menumbuhkan semangat, menghubungkan perjalanan ribuan tahun lalu dengan harapan masa depan.
“Kami merawat jewawut sebagai bagian dari sejarah hidup kami, sekaligus sebagai peluang membangun Krayan yang mandiri dan berdaya saing,” tutup Kolen Dawat.(**)








