Jakarta, KTV – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya pelajar berinisial YBR, siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur yang diduga bunuh diri karena putus asa tak bisa membeli buku dan pena.
Mu’ti menyebut peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan terkait perhatian, penanaman nilai agama, dan ketahanan keluarga bagi anak-anak oleh orang tua, masyarakat, guru, tokoh agama, dan penyelenggara pendidikan termasuk Kemendikdasmen. “Meninggalnya YBR merupakan catatan dan pelajaran bagi semua pihak akan pentingnya perhatian, penanaman nilai-nilai agama, dan ketahanan keluarga bagi anak-anak,” kata Mu’ti dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Februari 2026.
Kemendikdasmen berkomitmen berkoordinasi dengan Pemda memastikan dukungan pendidikan bagi keluarga YBR yang lain serta memberikan pendampingan psikososial. “Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif agar setiap anak merasa didengar dan dihargai,” ujar Mu’ti.
Kementerian juga menyalurkan santunan kepada keluarga yang diterima ibunda Maria Goreti Te’a, nenek Wihelmina Nenu, dan paman Dominikus Nou. “Kiranya ini dapat membantu keluarga untuk proses adat terkait kematian almarhum dan kebutuhan lainnya,” ujar Dominikus.
YBR ditemukan gantung diri di pohon pada Kamis, 29 Januari 2026 di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Polisi menemukan surat tulisan tangan korban dalam bahasa daerah Ngada yang ditujukan kepada ibunya, mengungkap alasan korban mengakhiri hidup.
Isi Surat YBR (Kertas Tii Mama Reti):
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja’o (Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
YBR meminta buku dan pensil sehari sebelum meninggal, namun ibunya tak memiliki uang. Ayahnya sudah meninggal lebih dulu, sementara ibunya menasihati YBR tetap rajin sekolah meski ekonomi terbatas. Korban ditemukan warga saat mengurus ternak kerbau tak jauh dari rumah neneknya di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo. (REN)








