Malinau, KTV – Festival budaya Semingkawot yang digelar di Balai Adat Desa Salap, Jumat (18/9/2026), berawal dari sebuah proyek sederhana untuk mendokumentasikan cerita dan budaya lokal Dayak Tahol.
Penanggung jawab kegiatan, Wiliam Gerson, S.IP., M.H., mengatakan, awalnya kegiatan tersebut merupakan inisiatif pribadi untuk membuat dokumenter tentang Semingkawot. Dalam prosesnya, ia mengumpulkan cerita dari para orang tua agar dokumentasi yang dibuat tetap sesuai dengan sejarah dan tradisi yang diwariskan sejak dahulu.
Proses dokumentasi kemudian melibatkan para pemuda dari sejumlah desa, di antaranya Desa Salap, Saput, Seruyung, serta sejumlah pemuda Dayak Tahol dari wilayah Kabupaten Nunukan.
“Awalnya niat kami membuat video dokumenter tentang Semingkawot. Namun karena melihat semangat anak muda yang luar biasa, kegiatan ini kemudian berkembang menjadi sebuah festival,” ujar Wiliam.
Menurutnya, semangat para pemuda membuat kegiatan tidak hanya berhenti pada pembuatan dokumenter. Untuk menghidupkan kembali cerita dan budaya yang didokumentasikan, kemudian ditambahkan berbagai perlombaan dan kegiatan budaya yang melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia.
Kegiatan yang awalnya dirancang dalam waktu singkat juga berkembang menjadi beberapa rangkaian kegiatan. Hal ini dilakukan untuk membuka ruang terjadinya transfer pengetahuan dan budaya dari generasi tua kepada generasi muda.
“Kami ingin ada transfer budaya dari orang tua kepada anak muda. Karena itu kegiatan terus berkembang,” jelasnya.
Wiliam menyampaikan, dukungan terhadap kegiatan juga semakin berkembang. Jika pada awalnya pendanaan berasal dari pribadi, dalam perjalanannya kegiatan mendapat dukungan dari ASN, PPPK, pelaku usaha, kepala desa, masyarakat, serta lembaga adat dari Malinau dan Nunukan.
Dukungan tersebut, kata dia, semakin menambah semangat para pemuda untuk melanjutkan kegiatan pelestarian budaya Dayak Tahol.
Ia berharap Festival Semingkawot dapat menjadi agenda tahunan sehingga pelestarian budaya tidak hanya berlangsung melalui kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda.
“Kami siap jika kegiatan ini dijadikan agenda tahunan. Bahkan kami siap berdiskusi bersama pemerintah daerah agar kegiatan ini bisa terus dikembangkan,” katanya.
Wiliam menilai, kegiatan tersebut telah memberikan dampak positif terhadap keterlibatan pemuda dalam mengenal dan mempraktikkan budaya. Salah satunya terlihat dari keterlibatan pemuda dalam membuat berbagai dekorasi dan perlengkapan tradisional yang sebelumnya belum mereka ketahui cara pembuatannya.
Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian penting dari transfer pengetahuan budaya secara langsung dari generasi tua kepada generasi muda.
Di akhir sambutannya, Wiliam juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama pelaksanaan festival, termasuk dalam proses produksi dokumenter yang tengah disiapkan.
“Kami mohon maaf jika dalam produksi nanti ada kekeliruan atau kekurangan. Tidak ada niat untuk membelokkan cerita tentang Tahol. Niat kami hanya satu, bagaimana Dayak Tahol bisa maju ke depannya dengan budaya yang ada,” pungkasnya. (**)








