telepon

0552-2033740

handphone

08115396997

email

tvkaltara@gmail.com

WtE Potensial Selesaikan Krisis Sampah Nasional, KRKP: Libatkan Masyarakat

Jakarta, KTV – Program Waste-to-Energy (WtE) yang dipimpin Danantara Indonesia dinilai berpotensi jadi solusi atasi permasalahan sampah nasional, khususnya dari limbah pangan.

Meski begitu, implementasi program ini perlu utamakan prinsip keberlanjutan lingkungan serta manfaat nyata bagi masyarakat.

“Masalah sampah yang sudah lama dan terus meningkat ini memang harus dicarikan jalan keluar. Kami melihat program Waste-to-Energy bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah,” kata Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, dikutip dari keterangannya.

Merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah nasional 2025 capai 56,6 juta ton. Komposisi terbesar dari limbah rumah tangga, terutama sisa makanan 40,79 persen dan plastik 19,95 persen.

Kajian food loss and waste (FLW) di Indonesia 2000–2019 catat timbulan sampah 115–184 kg per kapita per tahun. Dari rantai pasok, timbulan terbesar di tahap konsumsi. Total FLW periode itu 23-48 juta ton per tahun.

Kajian serupa tunjukkan total emisi dari FLW 2000–2019 diperkirakan 1.702,9 Mt CO₂, setara 23 persen emisi nasional. Rata-rata kontribusi tahunan 7,29 persen emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia. Sebanyak 77 persen emisi FLW dari limbah pangan, sebabkan kerugian ekonomi Rp213–551 triliun per tahun atau 4–5 persen PDB Indonesia.

Berdasarkan fakta itu, Said anggap perlu edukasi partisipatif ke warga dan keluarga. “Pendekatannya tidak hanya kampanye memilah sampah tapi beri kesadaran sampah jadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan,” ujar pengisi gelar wicara Sapa Bumi RRI Pro 2 FM Bogor ini.

Libatkan Partisipasi Masyarakat

Said sebut program WtE Danantara Indonesia perlu pikirkan keterlibatan partisipasi masyarakat. Pendekatan partisipatif kunci sukses WtE beri solusi sampah, sehingga manfaatnya dirasakan masyarakat.

“Secara ideal, program harus libat banyak pihak. Paling tidak proses awal, Danantara pastikan partisipasi publik terbuka bagi program Waste-to-Energy ini,” kata lulusan Program Studi Komunikasi dan Pembangunan Pedesaan IPB ini.

Pro dan kontra gagasan program, kata Said, dinamika sosial lazim. Ia sarankan Danantara buka ruang dialog warga terbuka jelaskan potensi pengelolaan sampah via WtE. Ia juga tekankan perlu sebarluaskan informasi program ini kuat ke publik.

Said titikberatkan penggunaan teknologi beri keamanan dan jaga kelestarian lingkungan. Adopsi keberhasilan negara seperti Jepang, Singapura, Denmark, Jerman jadi cara efektif pastikan WtE solusi sampah Indonesia.

“Harus ada benchmark jelas. Lalu pastikan program beri nilai manfaat dan ruang partisipasi terbuka ke masyarakat. Perhatikan aspek keamanan lingkungannya. Saat semua dijalankan, tak perlu ada yang sangsi,” ujar Said. (SAW)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *